Thursday, 27 February 2014

how to survive in delhi

setelah keluar dari rumah kenalan pertama sekarang saya stay di flat si tuan Arora, dia senang saya ikut tinggal dirumahnya karena dia sendiri, butuh teman, sedikit saya akan cerita tentang dia...
Tuan Arora ini duda yang telah bercerai dengan istrinya dengan satu putra usia 14 tahun, kemaren dia baru ultah ke 14...dia mempunya beberapa flat disekitar delhi, di lajpatnagar, pinobapuri, kailash hils, ghaziabad, southextnn dan didilshad garden, jadi usahanya cuma menyewakan flat2 itu dan juga main di stock market.
flat yang kami tempati ini di kailash hills, sebuah flat sederhana dengan 3 kamar, 2 washroom,dapur n dining room, kondisinya sangat sederhana, tau sendirilah rumah lajang, dapurnya pun seadanya tanpa banyak elektonik yang biasa ada di dapur, gak ada micro wave, blender,mixer, atau kompor listrik, hanya kompor gas satu sumbu dan sedikit perlengkapan masak, weeelll... saya akan buat dapurnya sedikit lebih layak nanti.

kami mulai diskusi gimana untuk dapat ijin tinggal atau permanent stay permit disini, dia mulai mempelajari dan browsing semua info soal itu, selain itu kegiatan kami cuma jalan, ketemu anaknya yang saat itu masih 13 tahun, agak bandel, sering melawan papanya dan sangat kelihatan dia membela mamanya yang seorang dosen design interior di kampus swasta di delhi.
awalnya anaknya kurang suka dan selalu mencari cara untuk bisa berdebat atau menghina saya, tapi jangan panggil saya kalau saya gak bisa mengatasi situasi itu, hanya dalam hitungan 3 bulanan dia menjadi sahabat saya yang selalu berpihak ke saya kalau saya berdebat dengan papanya.
sampai visa saya habis saya tidak bisa memperpanjang visa tanpa keluar dulu dari india, so saya putuskan berangkat ke dubay sementara sampai dapat visa india dan masuk ke delhi lagi.
sementara kenalan yang membayar tiket saya ke delhi dulu sering menghubungi, tapi cuma ketemu makan siang, bukan saya gak menghargai...tapi saya butuh status yang jelas atau bantuan yang bisa saya dapatkan, mungkin terdengar egois, tapi saya gak punya daya selain mengharap support dari orang2 hanya agar saya bisa bertahan di sini, saya gak tau cara apa lagi...
memasuki summer didelhi saya hubungi kenalan lain yang punya salon itu, tapi itu juga bukan solusi, saya butuh ijin tinggal dan pekerjaan, dulunya saya pikir rumah di aceh masih bisa menghasilkan duit rutin buat saya, perbulan saya dapat 3 jt lebih kurang kalau kamar full, selama orangtua saya belum mengambil kembali rumah itu saya masih bisa dapat income kan?
tapi siapa yang betah tinggal dan kos disana kalau mantan suami saya yang skizofren selalu datang mengganggu?
apalagi setelah kejadian kutuk mengutuk itu orangtua saya makin sering datang ke rumah, setelah kecelakaandan sembuh mereka rutin ke banda aceh, dan mulai menginterogasi anak kos yanga ada, katanya mulai sekarang kos mereka yang pegang, kalau ada yang mau kos urusannya ke mereka bukan kesaya.
saya mulai hopeless soal pendapatan dari kos di rumah itu, jadi saya sekarang benar2 harus berusaha keras untuk dapat duit, apalagi waktu urus ijintinggal dan perpanjang visa saya sempat ditipu calo2 yang sering ada di court, frro dan kantor2 pemerintahan di sini, duit tuan arora habis sekitar 1 lac, itu kira2 20 jt.

saya tetap berhubungan dengan anak kos di rumah itu jadi sering dapat info apa2 yang terjadi disana, dari hal2 kecil yang sudah saya duga sampai soal2 ajaib yang saya gak nyangka bisa dilakukan orangtua saya, jadi selain harus mikir cara bertahan di delhi ini, saya juga masih belum lepas soal masalah dirumah itu karena masih ada anak kos yang masih menjadi tanggung jawab saya

No comments:

Post a Comment