Tuesday, 25 February 2014

sakit hati kedua

tahun 2002, nyokap suruh balik ke aceh karena adek cowok yang nomer dua stelah saya mau lamaran dan bertunangan dengan calonnya, saya sedang menyusun thesis, jadi tidak terikat jadwal perkuliahan lagi, oke deh kita mudik dulu rencananya 2 mingguan saja, tapi pas pulang mudik itu dikenalin dengan seorang dokter, yang lumayan simpatik, dalam hitungan 2 bulanan dipersiapkan pernikahan berupa akad nikah saja, tanpa boleh terlalu banyak bicara ke orang2, pesta resepsinya 5 bulan kemudian karena perlu persiapan lebih matang, jadi dengan terburu2 akad nikah persiapan beberapa minggu, aneh banget seperti ayu ting ting aja, sementara adek yg rencana sebelumnya mau tunangan malah batal, ssttt... denger2 sih tuh cewek dah hamdun ma laki2 lain, ehhh maaf maaf...mari balik ke masalah utama aja.
mulai lah dengar rumor2 gak enak, macam2 berita miring, dari yang cemen2 sampai yang lumayan serem atau bikin takut juga, jadi saya balik kebandung buat selesaiin thesis malah stress n bingung...sementara suami saya itu rutin telpon dan saya lihat banyak keanehan2...
sebelum lamaran, salah seorang kerabat yg sedang di medan karena berobat memberi kabar kalau calon suami saya gila n dibawah pengawasan dokter jiwa, dokter kris n dokter saleh, tapi anehnya keluarga gak mengecek atau minimal bertanya keorang2 setelah mendapat informasi begitu...malah kayak gak mau dengar,takut banget gagal bermantukan dokter, waktu saya bilang kalau saya takutpun nyokap berusaha menenangkan dgn alasan dia orang alim jadi pas ada masalah di kampus nya yg menyebabkan dia di skors 2 semester dulu,dia malu,cuma itu kok, keliatan banget nyokap takut saya batalin...dan pada saat itu orang tua saya lagi siapin kami untuk pergi haji tahun 2003, beberapa hari setelah resepsi nikah,ntahlah... apa alasannya sampai tutup mata tutup telinga gitu...apa karena kuatir anak nya sudah 28 thn n belum menikah?TERLALU!!!
jadi saya mau bilang, belum tentu pilihan orang tua itu baik, apalagi orang tua yang bertindak demi kepentingannya tapi mengatasnamakan anaknya, orang tua apa yang tega menikahkan anaknya dengan orang yang menderita gangguan mental akut, seorang yang belakangan beberapa kali mencoba membunuh saya, mencoba memotong tangan saya, mencoba menyiram muka saya dengan  air keras bahkan beberapa kali mencoba bunuh diri, sampai dirawat di rsj? orang tua jenis apa yang tega berbuat begitu ke anak gadis satu2nya yang selalu di pamer ke orang2 kalau saya adalah anak kesayangan bokap, orang tua jenis apa yang tega begitu?? saya masih maklum ibu yang jual anak ke laki2 hidung belang, orangtua yang menikahkan anak buat bayar hutang, orang tua yang menyuruh anaknya jadi pengemis, gadis yang membunuh janinnya karena hamil diluar nikah, saya paham mereka melakukan semua itu karena terpaksa, mereka melakukan itu karena desakan ekonomi, mereka terpaksa...apa yang membuat orang tua saya tega begitu? apa? apa yang membuat mereka terpaksa? mereka mapan secara materi,mereka punya kehidupan yang baik, mereka punya semua yang di butuhkan orang2 seusia mereka, kecuali menantu n cucu,  apa karena itu mereka tega memaksa anaknya (bukan cuma saya, adik2 saya juga selalu dipaksa2 menikah sebelum mereka menikah dulu, tapi syukurnya mereka baik2 saja,mereka menikah dengan pilihan sendiri, bukan ditipu seperti saya).

beberapa minggu sebelum resepsi saya mudik lagi, karena akan ada resepsi n rencana berangkat haji, mulailah saya lihat keanehan2 suami saya, dari bicaranya, kesehariannya, kebiasaan2nya, semua banyak yang aneh, pas saya cerita ke nyokap dia terlihat ketakutan n reaksinya berlebihan seperti saya yang salah,hiiii... serem
beberapa hari setelah resepsi saya ke mekkah n madinah untuk berhaji, suami saya membawa banyak obat2 yang katanya itu obat migren, dan selama di sana dia hanya tidur n menceracau gitu, atau kami bertengkar, mukanya terlihat stress, saat itu saya masih belum yakin dia menderita gangguan jiw dan saat itu saya belum tahu atau bahkan mendengar istilah skizofren.

setelah balik ke aceh lagi, makin banyak keanehan.. suami saya tidur bisa sampai 20 jam sehari, gak ke rs,gak ke praktek, saya mulai jadi tenaga honorer di kantor walikota banda aceh dengan gaji 500rb/bulan...dan semua kebutuhan rt saya yang menanggung, rumah, mobil, biaya sehari2 semua dari saya dan keluarga saya, dia cuma datang n hadir sebagai suami tanpa modal apa2, hidup buat dia hanya untuk bersenang2 dan beribadah, soal kebuthan hidup yaaa dari istri aja,
kami menempati rumah pinjaman orang tua, beberapa kamar saya kos2in buat mahasiswa, nah banyak anak2 kedokteran yang kos di rumah, ketika saya mulai dekat mereka berani cerita ke saya apa2 yang mereka dengar tentang suami saya, ternyata hampir semua orangbyang kenal dia atau keluarganya ya tau kalau dia penderita gangguan mental, mereka shock pas tau bapak kos nya adalah orang di rs yang selam ini sering dibicarakan, dokter yang sakit jiwa ndibawah pengawasan dokter ahli jiwa, luar biasa hampir setahun saya menikah saya tetap belumdapat jawaban pasti apakah benar dia penderita gangguan jiwa?beberapa kali say telpn mertua saya, tapi mertua saya bersumpah demi allah kalau itu semua fitnah keji orang2 yang iri dengan keluarga mereka..beberapa kali mertua saya memaksa saya juga untuk bersaksi ke nyokap kalau suami saya baik2 saja, gak ada masalah apa2, saya hanya emosi jadi mengadu yang tidak2,gitu...ya Allah semoga mertua saya itu dimudahkan jalannya n dilapangkan kuburnya atas semua fitnah2 n sumpah palsu yang mengatas namakan allah dulu itu.

awal2 suami saya mulai kambuh kalau dia tiba2 bicara aneh2, mulai teriak2 dikamar dan jarang tidur malam, seharian main basket atau berenang ke pantai, malam dia shalat n mengaji semalaman, saya telpn mertua saya, n dia dijemput sopir pulang ke rumah orang tuanya seminggu, setelah seminggu dia balik ke rumah dalam keadaan segar n baik2 saja,belakangan saya tau kalau dia di rawat keluarga, disuntik smpai tidur beberapa hari,terus reda, kebetulan abang nya juga dokter spesialist....saya masih tetap menerka2 ada apa nih?kok aneh ya...tapi yang menyakitkan kelgnya terutama sepupu2 n tantenya mulai memfitnah dengan menyebar gosip tentang saya, tentang betapa buruk perilaku saya sebagai istri, betapa menderita sepupu atau ponakannya karena menikah dengan saya, betapa jahat keluarga saya...wowww luar biasa, sebelum tercium bau busuk n penipuan mereka karena menikahkan kelg nya yang gila ke saya, mereka berusaha menjatuhkan nama saya n keluarga saya terlebih dahulu,hebatkan?
beberapa bulan mulai dengar keluarganya memperingati nyokap soal saya, nanti ada anggota keluarganya menyebar gosip begini begitu, akhirnya saya yang marah2 ke suami saya...jadi sekitar 5 tahunan saya harus menghadapi suami yg sakit jiwa, tidak mampu menafkahi lahir batin, saya juga harus menghadapi teror n fitnah2 keluarga besarnya yang memang beusaarrr dan banyak itu.
suatu hari saya cek2 laci2 yang berisi file2 suami saya, disitu saya temuin hasil report dokter ahli jiw yang menyatakan dia sakit gangguan jiwa skizofren dengan macam2 analisa yang intinya dia tidak berhak menjadi dokter n mendapat izin praktek, dia tidak disarankan untuk menikah karena kondisinya yang kambuh setiap tahun, dll dst dkk
rasanya saya mau pingsan, saya berpikir keras mau cerai, saya coba konsultasi ke kakak ipar suami saya, nasehatnya apa gak kasian, tar dia tambah parah..insyaallah kambuhnya bakal berkurang kalau dia gak stress n byk pikiran..olallala mereka butuh perawat gratis anggota keluarganya seumur hidup dengan status istri, bertahun2 saya berpikir apa yang harus saya lakukan, 2 x saya hamil dan keguguran diusia kandungan14 minggu dan 4 minggu, itu bukan sesuatu yang  luar biasa lagi, saya sudah tau kalau saya akan terus keguguran karena dinding rahim yang luka parut tidak bisa menyimpan janin...saya tau kalau saya tidak akan punya anak dari rahim saya sendiri, saya tau...lagi pula siapa yang mau punya anak dari seorang penderita gangguan mental?

selama itu saya mulai tutup hubungan dengan keluarga saya, saya benci orangtua saya, saya benci orang yang saya anggap telah menjerumuskan saya, saya benci mereka.


No comments:

Post a Comment