saya menempuh pendidikan sma di sebuah sma negeri di banda aceh, setiap pagi saya harus jalan kaki dari rumah sejauh 1 km untuk ke jalan raya dan menunggu angkutan umum yang kalau di aceh di sebut labi- labi atau sudaco, turun dari angkutan umum itu saya jalan kaki lagi 1 km ke sekolah saya, sebenarnya itu gak papalah...banyak orang jalan kaki lebih jauh kesekolah nya ya? tapi jadi tidak biasa kalau saya mau bandingkan dengan kedua adik laki2 saya yg usianya hanya berjarak setahun dan 3 tahun dari umur saya, adik saya yang pertama sekolah di sma yang lebih dekat jaraknya dari rumah dan dia pindah2 sma 3 kali selama 3 tahun sekolah sma itu dan dia juga selalu pakai motor besar yang juga ganti setiap tahun, jadi seingat saya selama sma dia ganti motornya 3x..termasuk ketika satu semester dia pernah sekolah di sma lhokseumawe,diluar kota banda aceh karena banyak kasus.
karena sekolah saya lebih jauh dan jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki, saya harus berangkat 1,5 jam lebih awal dari adik saya, dia selalu masih tidur ketika saya berangkat ke sekolah, mungkin dia bisa berangkat 10 menit sebelum gerbang sekolahnya di tutup kalilah...demikian juga waktu pulang sekolah, saya harus berjalan kaki ke jalan besar nunggu angkutan umum dan turun dari angkutan itu saya masih harus jalan kaki 1 km untuk tiba di rumah, sampai di rumah saya harus siap2 berangkat kursus bahasa inggris atau mipa,apalagi ketika dikelas 3, tanpa makan atau mandi saya sudah harus siap2 lagi...kadang rasanya mau pingsan cape dan kelaparan setiap hari, dan satu kalipun gak pernah saya ditumpangi dengan motor adik saya itu...tapi ntahlah saat itu tidak pernah satu kata pun protes keluar dari mulut saya, saya terima semua keadaan yang tidak adil itu, tapi sekarang saya sadar, saat itu saya hanya menyimpan dendam yang suatu saat akan meledak
oh...saya lupa cerita tentang adik bungsu saya ya...waktu dia sma saya sudah ke bandung untuk kuliah...tapi yang saya tau dia ke sekolah pakai motor sampai suatu hari dia kecelakaan, tulang bahu dan tangannya patah...jadi setiap hari dia diantar jemput sopir untuk urusan sekolah dan jarak sekolahnya ke rumah 1 km lah, rata2 orang juga jalan kaki, pada tahun 90 an itu belum terlalu banyak anak sekolah pakai motor, kalau sudah kuliah baru orangtua kasih motor keanaknya, biasanya sih gitu...tapi ntah kenapa adik bungsu saya ini sangat spesial,sebelum dia pulang ke rumah, nyokap kalau lagi diluar rumah pasti telpn pembantu untuk siapin makanan siangnya dan harus hangat atau adik bungsu saya tidak akan menyentuh makanannya
hanya soal itu? tentu tidak....
pakaian seragam, sepatu dan tas saya beli yang murahan, sementara adik2 saya terbiasa pakai sepatu yang mahal, jam tangan ber merk, parfum dan bermacam2 atribut yang saat itu termasuk mewah dan berkelas untuk ukuran diaceh, sementara saya saya kelas rendahan dalam pergaulan, sekolah n semua perlengkapan.
dengan kondisi begitu saya tetap berusaha memperlihatkan ke orang2 semua kalau saya baik2 saja...saya gak ada masalah, sementara nyokap selalu menampilkan ke relasi atau sodara2 nya betapa sempurna dia sebagai perempuan...
aq benci
karena sekolah saya lebih jauh dan jarak yang harus saya tempuh dengan jalan kaki, saya harus berangkat 1,5 jam lebih awal dari adik saya, dia selalu masih tidur ketika saya berangkat ke sekolah, mungkin dia bisa berangkat 10 menit sebelum gerbang sekolahnya di tutup kalilah...demikian juga waktu pulang sekolah, saya harus berjalan kaki ke jalan besar nunggu angkutan umum dan turun dari angkutan itu saya masih harus jalan kaki 1 km untuk tiba di rumah, sampai di rumah saya harus siap2 berangkat kursus bahasa inggris atau mipa,apalagi ketika dikelas 3, tanpa makan atau mandi saya sudah harus siap2 lagi...kadang rasanya mau pingsan cape dan kelaparan setiap hari, dan satu kalipun gak pernah saya ditumpangi dengan motor adik saya itu...tapi ntahlah saat itu tidak pernah satu kata pun protes keluar dari mulut saya, saya terima semua keadaan yang tidak adil itu, tapi sekarang saya sadar, saat itu saya hanya menyimpan dendam yang suatu saat akan meledak
oh...saya lupa cerita tentang adik bungsu saya ya...waktu dia sma saya sudah ke bandung untuk kuliah...tapi yang saya tau dia ke sekolah pakai motor sampai suatu hari dia kecelakaan, tulang bahu dan tangannya patah...jadi setiap hari dia diantar jemput sopir untuk urusan sekolah dan jarak sekolahnya ke rumah 1 km lah, rata2 orang juga jalan kaki, pada tahun 90 an itu belum terlalu banyak anak sekolah pakai motor, kalau sudah kuliah baru orangtua kasih motor keanaknya, biasanya sih gitu...tapi ntah kenapa adik bungsu saya ini sangat spesial,sebelum dia pulang ke rumah, nyokap kalau lagi diluar rumah pasti telpn pembantu untuk siapin makanan siangnya dan harus hangat atau adik bungsu saya tidak akan menyentuh makanannya
hanya soal itu? tentu tidak....
pakaian seragam, sepatu dan tas saya beli yang murahan, sementara adik2 saya terbiasa pakai sepatu yang mahal, jam tangan ber merk, parfum dan bermacam2 atribut yang saat itu termasuk mewah dan berkelas untuk ukuran diaceh, sementara saya saya kelas rendahan dalam pergaulan, sekolah n semua perlengkapan.
dengan kondisi begitu saya tetap berusaha memperlihatkan ke orang2 semua kalau saya baik2 saja...saya gak ada masalah, sementara nyokap selalu menampilkan ke relasi atau sodara2 nya betapa sempurna dia sebagai perempuan...
aq benci
No comments:
Post a Comment