Wednesday, 26 February 2014

sakit hati yang kesekian

dulu pasca tsunami di aceh, orantua saya menyewakan rumahnya ke NGO dari australia, tahun kedua rumah kosong sementara  mereka telah pindah ke jakarta, trus kemedan...saya ada ide rumah itu dijadikan wisma, biar saya yang kelola, jadi keluarga meeting, bokap memberi tahu ke adik2 saya dan seorang sepupu yang akan ikut membantu diwisma karena dalam beberapa bulan kedepan kontrak saya di IRD selesai, jadi saya bisa fokus urus wisma, insyaallah kalau maju akan di urus ke notaris soal pembagian hasil keuntungannya dan tentu saya akan dapat bagian yang lebih besar karena saya yang mengurus langsung. karena memang rumahnya besar, dengan halaman sangat luas kira2 sehektar., dan luas bangunan satu lantai seribu mtr persegi., perlu persiapan banyak untuk siap huni menjadi wisma, tapi saya pikir sambil jalan persiapan wisma bisa terima tamu.

saya yang saat itu masih bekerja di IRD bekerja rangkap dengan  mengelola wisma, dari perlengkapan isi rumah sampai mengatur semua urusan wisma dan mencari pegawai, itu sekitar puasa 2006, harga kamar bervariasi dari 100rb-300rb permalam, mulailah saya belanja isi kamar ac, ranjang, lemari, tv, seprei, bantal2...serta lengkapi dapur juga karena saya berencana untuk terima catering, termasuk urus perijinan wisma, dengan dana dari orangtua saya, tapi beberapa kali saya lengkapi kebutuhan wisma dengan uang pribadi saya dengan pertimbangan nanti akan saya lapor, saya menganggap itu bisnis saya yang baru dimulai, belum ada keuntungan karena masih hitungan hari jadi wajar saya keluar uang sedikit, nanti kalau usaha lancar barulah kita hitung2 secara lebih jelas, setiap hari pulang kerja saya ke wisma untuk urusan ini itu, jam 11 atau 12 malam saya pulang ke rumah saya yang saat itu juga penuh anak kos. tapi selama puasa tidak ada tamu di wisma, mungkin karena puasa aktifitas agak berkurang, atau kurang promosi, padahal saya pasang iklan di surat kabar lokal, saya buat pamflet yang saya sebar di airport, ke taksi2 dan kesemua kenalan. kebetulan lokasi wisma agak di pinggiran kota, jauh dari pusat kota, mungkin ini juga jadi faktor tidak ada tamu ke wisma selama puasa itu, jadi waktu ada dokter ptt mau kos bulanan tentu saya terima aja, dia mau ambil dua bulan tapi minta diskon 50% saya oke in juga, satu lagi seorang ibu pekerja di salah satu NGO sewa sebulan juga ada beberapa tamu yang buka kamar semalam atau cuma seminggu, termasuk tamu dari prancis yang ambil 3 malam karena mau lihat suasana lebaran di aceh, selain itu tidak ada tamu lagi.

setelah lebaran penghuni wisma yang dokter itu menelpon saya untuk sewa bulan kedua dengan diskon yang 50% itu dan saya okein aja, malamnya saya kesana dan ada adik bungsu saya yang saat itu baru  sekitar 4 bulan pindah ke aceh setelah sebelumnya dinas dijakarta mulai tinggal di wisma itu, dia tanya apa benar saya setuju yang soal sewa sebulan diskon 50% itu? saya jawab iya, memang sudah janji dari awal dia tinggal di wisma, daripada tidak ada tamu dan adik saya itu menjawab ; waduh, kalau saya sudah di kasih wewenang urus wisma ini, tolong kakak jangan ikut campur lagi, payah kali kalau ada 2 kebijakan begini, saya udah bilang gak boleh, kok kakak bilang boleh? ini wisma saya yang kelola sekarang, kakak ga usah ikut campur lagi.
astaga...kira2 gimana reaksi yang wajar n berkelas ya?
saya coba konfirmasi ke nyokap, tapi belakangan saya tau ternyata bokap gak percaya ke saya, saya gak jujur soal keuangan wisma, gak ada komunikasi jadi lebih baik diurus adik saya saja... ya allah ya rabbi, kenapa mereka memutuskan sepihak gitu tanpa pemberitahuan ke saya? tanpa minta penjelasan kesaya? bagian mana yang saya tidak jujur? saya baru kelola wisma itu satu setengah bulan, apa dasar mereka mengganti saya dengan adik saya tanpa pemberitahuan lebih dahulu?
semoga mereka sadar apa yang mereka lakukan sangat jahat dan menzalimi saya, semoga mereka sadar kalau mereka orang2 culas dan licik yang suka memfitnah dan sanggup bilang apa saja demi kepentingan mereka, setelah bertengkar beberapa kali, saya angkat kaki dari wisma dan tidak pernah datang lagi dari tahun 2006 sampai 5 tahun kemudian setelah urusan cerai saya selesai, itulah kenapa saya tidak datang ke pernikahan kedua adik saya di tahun 2006 dan 2007, saat itu saya sangat marah dan menutup segala komunikasi dengan mereka semua, tapi tidak pernah ada itikad dari mereka untik menjelaskan atau menghubungi saya, malah saya dengar nyokap bilang saya gak jujur, kalau adik saya jelas laporan keuangan, padahal beberapa bulan kemudian juga tutup tuh wisma.
sampai sekarang saya masih takjub, ada yaa seorang ibu memfitnah anaknya?

No comments:

Post a Comment