Wednesday, 26 February 2014

proses cerai diakhir 2011

setelah balik ke aceh dari kl, saya kembali stay di rumah pinjaman orangtua (kenapa saya bilang pinjaman, nanti akan saya jelaskan), tanpa kerjaan dan pisah dengan suami meskipun belum bercerai resmi, saya menjual beberapa perhiasan emas dan berlian pemberian nyokap tapi saya juga ada beberpa kamar yang di kos kan ke mahasiswi, kebetulan rumah ini cukup besar dan dekat dengan kampus2 negeri dan beberapa kampus swasta disekitar banda aceh
orangtua saya mempunyai rumah yang sangat besar yang jaraknya kira2 14km dari rumah yang saya tempati waktu itu,tapi kami tidak pernah bertemu atau kontak selama bertahun2 termasuk lebaran, karena beberapa kali lebaran saya di luar atau minimal ke medan
suami saya mulai mengganggu,datang menteror, sepanjang malam dia berkeliaran disekitar rumah, tidur di teras depan kamar saya, atau manjat ke balkon, atau mematikan meteran listrik...kadang2 rumah dilempari batu, saya telp keluarganya, mereka datang menjemput dengan cara baik2 atau dengan paksaan.
saya mendaftar gugatan ceraisekitar dua kali, tapi saya batalkan karena beberapa alasan yang saya lihat kenapa nyokap cari nama dan reaksinya bikin saya jijik...dulu mereka yang pengaruhin saya untuk menikah dengan dokter skizofren itu, ketika sudah ribut dan banyak masalah dengan gampangnya mereka suruh cerai, asli tuh orangtua gak punya perasaan, contohnya waktu saya bilang saya gak bisa punya anak, reaksinya cuma ahhhh kalau gak bisa punya anak kan bisa angkat anak, orang lain juga banyak kok gitu, waktu saya bilang kalau rahim saya mau diangkat, reaksinyanya cuma ..ohhhh jadi kapan ke aceh? waktu saya telpon karena ketakutan tengah malam si skizofren lempar atap dengan batu, reaksinya cuma...ohhh gak taulah, apa yang bisa kami buat, kami jauh pun, waktu saya bilang kalau si skizofren lagi congkel pintu rumah atau jendela, reaksinya cuma...oh kan pintu dan jendela dikunci , ada jeruji juga, gak bisa apa2 dia...
beberapa kali saya hubungin karena panik dan ketakutan karena teror si skizofren, tapi reaksinya cool2 aja, sangat jelas terlihat tidak peduli dan angkat tangan....malah adik ipar saya bilang kalau cerita ke nyokap gak ada guna, kayak cerita ketembok.
kalau reaksi bokap lain lagi..kalau saya cerita gimana mengerikannya si skizofren, reaksinya...tuh nanti tidur malam dicekek tuh,oarang gila gitu.....oh my god.begitulah reaksinya yang bikin saya bergerak sendiri urus cerai tapi saya tetap maju mundur.
tapi kenapa akhirnya mereka mau repot2 urus perceraian saya , mereka tampil bak pahlawan yang membantu anaknya yang teraniaya dengan suami yang gila?mereka yang membayar pengacara dan siap ke banda aceh tiap minggu untuk hadir di pengadilan?
kalau alasan pastinya hanya mereka n tuhan yang tau, tapi kalau menurut saya itu pencitraan dan cari muka ke orang2 saja

No comments:

Post a Comment