Friday, 21 March 2014

dua bulan didubay

tahun lalu saya sempat ke dubay, itu masa2 galau saya terberat, saya sering berantem dengan tuan, saya bingung mau kemana, saya gak punya tempat, saya gak punya visa karena dari tourist visa gak bisa di extend ke other visa tanpa keluar india lebih dahulu, saya gak punya uang, gak ada tempat untuk pergi, saya sendiri di tempat asing dengan kondisi ilegal didepan mata...

teman saya di dubay kirim tiket bolak balik, saya hanya perlu urus visa dengan dia yang sponsori, pilihan saya ke nepal yang lebih dekat tapi saya gak punya kenalan atau ke dubay yang jauh tapi minimal saya punya kenalan jadi ada tempat tinggal dan saya dijanjikan kerjaan disana, asal mau kerja apa aja, buruh juga boleh...
oke saya pilih ke dubay.

tuan bilang kalau saya gak usah balik ke dia lagi, kalau berani ninggalin dia, dia gak akan menerima saya lagi, saya silahkan pergi dan jangan pernah hubungi dia lagi, saya terima tantangannya.
didubay saya tinggal di rumah kenalannya teman saya, mereka suami istri tanpa anak, kamarnya cuma satu, saya tidur disofa bed diruang tamunya, jadi saya mulai tidur ketika mereka sudah masuk kamar dan mulai tidur dan saya harus sudah bangun sebelum mereka keluar kamar pagi hari. tapi karena saya gak punya ruang pribadi, saya jadi gak berani bebas atau berpakaian sesukanya saat dirumah atau saat tidur, padahal saat itu mulai summer, cuacanya 40 derajat celcius setiap harinya, tapi saya tetap pakai baju tangan panjang dan celana panjang seperti teletubbies, saya gak mau sampai ada masalah dengan si bapak atau ibu tempat saya numpang, jadilah saya selalu kepanasan, rasanya berat badan saya turun beberapa kilo selama didubay ini.

saya cuma tahan seminggu, lalu saya minta tinggal ditempat lain, asrama karyawan, yang sekamarnya bisa berdelapan orang dengan bed bertingkat, disini kondisinya lebih mengenaskan, rasanya saya lagi ditempatkan di barak sementara sebelum di ambil majikan yang akan mempekerjakan saya, dengan 8 orang perempuan, ada yang gadis ada yang janda dan ada yang gak jelas statusnya kami hanya punya satu kamar mandi yang juga dipakai untuk mencuci biasanya dihari minggu saat mereka gak kerja.
mereka masak sama2, waktu pulang kerja dan kami makan sama2, saya gak bayar tinggal disini, saya rasa teman saya punya kenalan atau masukin saya secara ilegal nih karenakan asrama itu khusus untuk karyawan perusahaan, bukan untuk umum. di barak saya semua orang indonesia, tapi di barak lain ada dari thailand juga.

soal makanan saya rasa lebih mudah dapat menu atau bahan makanan ala indonesia di dubay dibandingkan di delhi, saya setiap hari makan makanan indonesia, pecal, macam2 ikan yang mirip ikan di indonesia juga, mereka bikin rawon, ketupat dan bubur ayam komplit dengan hati ampela dan kerupuk, sementara di delhi saya gak tau dimana belinya, saya cuma makan begituan kalau ada acara di embassy, beberapa kali saya makan soto, sop sapi, pecal, urap dan lodeh di  kbri delhi, kalau di rumah tuan saya cuma beli ayam dan masak kari dari bermacam sayur.
persamaan sayuran di dubay dan india itu mereka sayurannya lebih ke buah dan biji2an, kalau kita diindonesia sayuran itu lebih dominan daun2an kan?
saya magang kerja di LSM perempuan, 3 minggu, waktu mau di buat kontrak kerja 6 bulan saya gak bisa karena beberapa minggu lagi saya bali ke delhi.

teman saya mau sponsori saya untuk kerja dan menetap didubay, dia bisa urus stay permit untuk 2 tahun dan bisa diperpanjang nantinya. teman saya ini orang india yang telah bekerja bertahun2 di dubay, kuwait, qatar dan saudi, katanya dia belum menikah, tapi saya gak percaya, banyak pekerja2 disana punya anak istri dikampungnya, tapi nikah lagi, orang indonesia juga banyak yang begitu, gak laki2 aja, perempuan juga, kerja di negara2 arab 3 tahun, kadang diperpanjang 3 tahun lagi biar bisa bikin rumah dan ada modal bikin usaha dikampungnya, tapi dia kawin kontrak dengans sesama pekerja dari asal yang sama atau mungkin juga dari negara2 lain, kalau kontrak kerja selesai mereka cerai dan balik kekampungnya lagi, kembali ke suaminya dikampung seperti gak ada apa2, tapi sedihnya kadang pas pulang kampung suaminya sudah menikah lagi dan uang yang dikirim tiap bulan habis gak bersisa, gak di bikin rumah atau modal usaha, suaminya bersenang2 dengan hasil keringat istrinya bertahun2, sedihnya...kalau mereka dengar soal kelakuan suaminya waktu mereka masih di arab, biasanya mereka gak pulang lagi, malah kerja ilegal disana sini karena uangnya lebih banyak, gak ada potongan untuk agen. ada juga yang hamil dengan pasangan barunya di arab, jadi mana mungkin pulang? terpaksa bertahan disana walupun kadang2 cuma sendiri, suami barupun gak bertanggung jawab, saya melihat atau mendengar banyak kejadian sedih dari kenalan2 saya didubay, drama2 kehidupan yang perih, semua itu berawal dari kemiskinan dan kebodohan. rata2 mereka tamatan sd atau smp, dengan latar belakang keluarga miskin, keluarganya hanya penggarap sawah atau kebun orang, uang cuma untuk makan sehari2, rumah tidak layak yang biasanya juga cuma bangunan seadanya di lahan perkebunan tempat mereka bekerja, mereka miskin, cuma ingin mengubah nasib supaya lebih baik untuk anak cucunya, tapi kebanyakan malah hidupnya makin buruk, tidak bertambah baik, dan mereka lepas dari keluarganya, nasib mereka sangat buruk, mereka gak punya materi, tapi jauh juga dari agama....oh kok saya jadi sok paten, saya lebih buruk dari mereka!

setelah dua bulan saya di dubay saya kembali galau, bingung apakah saya balik ke delhi atau bertahan didubay?
tuan gak terima saya lagi, dia menolak saya tinggal dirumahnya lagi....
tapi didubay sangat mengenaskan, kalau kita mapan secara ekonomi, stay di dubay enak, negara maju dan keren, dubay kan eropanya timur tengahkan?
tapi saya gak mapan, saya miskin, gak punya tempat tinggal yang layak, gak punya teman, gak punya pekerjaan, saya gak sanggup memulai dari nol untuk dapat pekerjaan, saya sudah tua, saya gak sanggup bersaing dengan para pekerja yang masig muda2 itu, dan saya lihat sendiri kehidupan mereka yang mengerikan, saya bukan orang suci yang sok bersih, tapi saya gak sangggup kalau harus berkompromi dengan kehidupan yang bejat dan jauh dari agama begitu, saya mau kehidupan normal, bergaul dengan orang2 normal dan berkelas, orang2 berpendidikan yang punya kehidupan wajar, itu saja kok....dan itu gak ada di lingkungan saya di dubay, mereka bebas, nakal dan gak berkelas, saya gak sanggup...
saya mungkin akan jadi sok diantara mereka, yang ujung2nya tentu mereka akan menjauhi saya kan?
jadi saya hubungi tuan dan minta tolong dia, saya bilang saya gak ada tempat untuk pergi, pilihan saya hanya pulang kampung, dan tuan tau kondisi saya dikampung lebih mengerikan dengan segala teror itu...

yah disini saya lagi, didelhi, diflat sederhana tuan saya yang kaya tapi super pelit itu, saya akan jadi pelayannya, saya harus nurut ke dia, bla bla bla...saya iyain semua persyaratan dari dia, karena saya tau kalau nanti saya datang gak begitu...
setelah balik ke delhi saya bekerja di salon sialan itu...yaaa....selama masih bernapas masih banyak harapan, tuhan gak akan membiarkan saya mati kelaparan.

No comments:

Post a Comment