Monday, 10 March 2014

hemat atau pelit?

dulu saya kira tuan saya ada masalah ekonomi, karena saya lihat dia tidak bekerja walaupun selalu sibuk dengan stock market, tapi saya pesimis, mana mungkin dapat duit dari situ, jadi income-nya cuma dari renting alias penyewaan flat, dia punya beberapa flat didelhi dan diluar delhi, tapi sejak saya kesini tahun lalu gak ada yang sewa, kalau kata anaknya juga gak pernah ada yang sewa sejak dulu, kadang ada yang masuk dan belum habis masa sewa keluar karena macam2 masalah, tapi kata tuan saya ini tahun lalu ada yang sewa flat di southextn 6 juta perbulan dan mereka sewa selama setahun.

kadang saya bertanya2, kami selalu belanja dengan credit cardnya, terus gimana dia lunasin diakhir bulan? visa saya harus diperpanjang ke x-visa untuk setahun biayanya 10 rb rupees, pio untuk 15 tahun setelah itu juga kena biaya 15 rb rupees, saya lagi cari akal buat dapat uang, saya gak berharap tuan yang bayar, karena saya hampir yakin dia gak punya uang, dengan flat kosong nya ada beberapa, bukannya dapat pemasukan tapi malah dia harus keluar uang untuk biaya perawatannya kan?

sejak sekitar 6 bulan yang lalu, dia sakit gigi, saya gak tau masalah jelasnya, harus dicabut atau gimana, dan biayanya sekitar 3000 rupees, itu kan cuma 600 rb an, tapi kok dia bertahan gak berobat, kalau malam dia kesakitan, diatasi dengan meditasi dan ayurvedic (pengobatan herbal ala india), kadang tengah malam dia pergi keluar atau keparkiran untuk mengatasi sakit, setelah sejam dia bali ke rumah, tapi beberpa hari kemudian sakit lagi, katanya gak ada uang buat berobat.

kalau belanja juga kami hemat2, hanya beli yang benar2 perlu dan dengan penuh pertimbangan sesuai kebutuhan saja, jadi kalau ke supermarket belanja mingguan sekitar 700-1000 rupees saja, itu sekitar 140rb-200 rb rupiah, perasaan itu sih buat jajan anak sekolah seminggu juga gak cukupkan?

kalau makan direstoran, selalu berdebat karena dia hanya mau menu yang murah, kalau saya bilang restoran disini itu bukan beneran restoran loh, tapi toko yang kita order makanan dan kita makan berdiri didepan tokonya, bareng dengan kuli2, tukang2 gitu.

karena kondisi begitu, jadi saya sudah yakin kalau dia krisis ekonomi, gak ada pemasukan, hanya bertahan sampai ada yang sewa flatnya samapi suatu hari saya tau kalau saya salah besar...
malam itu kami bertengkar karena tuan menyalahkan saya karena belanja terlalu banyak, katanya foya2, tanpa perhitungan. saya sudah biasa dimarahin jadi diam aja, tapi semalaman marah terus gak selesai2, saya pun jadi emosi, saya bilang standard hidup dia kelas kambing, kalau diaceh kelas pengemis, mana ada orang makan sepiring 3ribuan rupiah? diaceh minimal 10ribu, kami makan lengkap karbohidrat, menu2 pelengkap juga seperti sayur, ikan atau daging dan tambahan buah2an, jangan dikira cuma kasih makan saya kayak binatang aja serasa bisa beli saya, kami jadi bersahut2an marah, sampai saya nangis dan beres2in tas mau pergi, saya bilang kalau saya akan keluar dari rumahnya besok pagi, malam itu saya nangis, rasanya menyesal datang kesini.

tapi tuan masuk ke kamar saya dan bilang kalau dia gak miskin, tapi memang standard hidup dia begitu, jangan disamain dengan gaya di indonesia, kalau gak percaya dia bisa tunjukin buktinya, jadi dia tunjukin ke saya sertifikat depositonya yang ada 7, dan nominalnya satu deposito rata2 puluhan sampai ratusan juta, dan ada lagi sertifikat deposito yang lebih besar disimpan di deposit bank. saya hitung2 uang simpanannya saja lebih satu milyard, belum lagi surat2 saham dan sertifikat bangunan yang rata2 harga satu bangunannya 1 milyar lebih.
jadi walaupun dia tidak ada pemasukan tapi dari bunga depositonya saja sudah lumayankan?

tapi kenapa untuk berobat sakit giginya saja dia tahan tidak ke dokter?
ya ampunnnn...ternyata dia super pelit termasuk buat dirinya sendiri, jadi jangan harap dia akan bayar buat x-visa dan pio saya, totalnya sekitar 5 juta rupiah.

saya tidak tahu perbedaan gaya hidup orang diindonesia dengan orang india, saya hanya membandingkan gaya hidup saya dan orang2 disekitar saya dan beberapa gelintir kenalan saya diindia, gaya hidup diindia sangaaaaaatttttt rendah dibanding kita, sangaaatttt jauh tertinggal dibanding kita, dalam segala hal kasat mata kehidupan diindia saat ini sama seperti kehidupan diindonesia tahun 80an.





No comments:

Post a Comment